Friday, July 7, 2017

Psikoterapi: Jenis Terapi dari Aliran-aliran Psikologi

Nama   : Hani Dwi Apriliani
Kelas   : 3PA11
NPM   : 14514746
Kel      : 2
Pembahasan :
1.      Psikoanalisa     : Analisis Resistensi
2.      Behavioristik   : Assertive Training
3.      Humanistik      : Rational Emotive Therapy

JENIS – JENIS TERAPI
Berikut adalah beberapa jenis terapi berdasarkan aliran dari psikoanalisa, behaviorisme, dan kognitif behavioristik. Banyak jenis terapi yang bisa digunakan berdasarkan aliran-aliran tersebut. Terapi yang termaksud dalam aliran psikoanalisa salah satunya adalah analisis resistensi. Assertive training merupakan salah satu jenis terapi dari aliran behavior. Sedangkan rational emotive therapy (RET) merupakan salah satu jenis terapi berdasarkan aliran kognitif behavioristik. Beberapa terapi tersebut akan dibahas dalam makalah ini.

 I.      ANALISIS RESISTENSI
A.    Definisi Resistensi
Resistance didalam bahasa inggris berasal dari kata resist dan ance adalah menunjukkan pada posisi sebuah sikap yang cenderung untuk berperilaku bertahan, menentang, berusaha melawan, dan upaya oposisi. Dalam kajian psikoterapi, resistensi merupakan strategi pertahanan klien untuk mencegah analisis atau terapis masuk dan memahami permasalahan klien.
 Resistensi sebagai suatu konsep fundamental praktek-praktek psikoanalisa yang bekerja melawan kemajuan terapi dan mencegah klien untuk menampilkan hal-hal yang tidak disadari. Sigmund Frued memandang resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan. Resistensi bukan sesuatu yang harus diatasi karena hal itu merupakan gambaran pendekatan pertahanan klien dalam kehidupan sehari-hari. Resistensi harus diakui sebagai alat pertahanan menghadapi kecemasan. Interpretasi konselor terhadap resistensi ditujukan kepada bantuan klien untuk menyadari alasan timbulnya resistensi.
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan, dan pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang direpres tersebut (Corey, 1995). 
Dalam proses terapi, resistensi bukanlah sesuatu yang harus diatasi, karena merupakan perwujudan dari pertahanan klien yang biasanya dilakukan sehari-hari. Resistensi ini dapat dilihat sebagai sarana untuk bertahan klien terhadap kecemasan, meski sebenarnya menghambat kemampuan untuk menghadapi hidup yang lebih memuaskan (Corey, 1995).
Resistensi adalah semua kekuatan dalam pasien yang menentang prosedur-prosedur dan proses-proses pekerjaan psikoanalitik. Dalam tingkat tertentu, resistensi itu ada dari awal sampai akhir perawatan (Freud, 1912). Resistensi mempertahankan status quo neurosis pasien. Resistensi adalah suatu konsep operasional, bukan sesuatu yang harus diciptakan analisis. Situasi analitik menjadi arena dimana resistensi-resistensi itu mengungkapkan dirinya.
Resistensi adalah pengulangan semua operasi defensif yang telah digunakan pasien dalam kehidupan masa lampaunya. Semua variasi gejala psikis mungkin digunakan untuk tujuan resistensi dan resistensi itu beroperasi melalui ego pasien. Meskipun beberapa aspek dari suatu resistensi mungkin sadar, namun suatu bagian yang penting diadakan oleh ego tak sadar.
A.    Tujuan Analisis Resistensi
 Analisis dan penafsiran resistensi, ditujukan untuk membantu klien agar menyadari alasan-alasan yang ada dibalik resistensi sehingga dia bisa menanganinya, terapis meminta klien menafsirkan resistensi. Tujuannya adalah mencegah material-material mengancam yang akan memasuki kesadaran klien, dengan cara mencegah klien mengungkapkan hal - hal yang tidak disadarinya. Pada tingkat paling sederhana, resistensi itu melibatkan secara sengaja untuk tidak menaati aturan fundamental. Bahkan, jika tingkat resistensi ini diatasi, resistensi akan menemukan cara - cara ekspresi yang tidak terlalu terang-terangan. Ego klien takut pada potensi ketidaksenangan yang disebabkan karena mengeksplorasi materi yang telah direpresi melalui antikateksisnya dan semakin jauh pula asosiasi klien dari materi tidak sadar yang ingin ditemukan oleh analisis.

B.     Teori Analisis Resistensi
Dalam hal ini diuraikan dua hal, yakni hubungan antara resistensi dan pertahanan serta hubungan antara resistensi dan regresi.
1.      Resistensi dan Pertahanan
Resistensi menentang prosedur analitik, analisis, dan ego-rasional pasien. Resistensi mempertahankan neurosis, hal yang lama, sudah lazim, dan bersifat kekanak-kanakan supaya tidak diungkapkan dan berubah. Istilah resistensi mengacu pada semua operasi defensif dari perlengkapan mental ketika mereka dibangkitkan dalam situasi analitik.
Pertahanan mengacu pada usaha melindungi diri terhadap bahaya dan rasa sakit serta harus dibedakan dari aktivitas-aktivitas insting yang mencari kenikmatan dan pelepasan. Dalam situasi psikoanalitik, pertahanan memanifestasikan dirinya sebagai resistensi. Freud menggunakan dua istilah tersebut dengan arti yang sama dalam hampir semua tulisannya. Fungsi dari pertahanan pertama-tama adalah fungsi ego, meskipun setiap gejala psikis dapat digunakan untuk tujuan-tujuan defensif.
Pada dasarnya resistensi beroperasi dalam pasien pada ego tak sadarnya, meskipun aspek-aspek tertentu dari resistensinya mudah dicapai oleh ego yang mengamati dan menilai. Kita harus membedakan antara fakta bahwa pasien mengadakan resistensi, bagaimana ia mengadakan resistensi, apa yang dicegahnya, dan mengapa ia mengadakan resistensi (Fenichel, 1941).
Konsep pertahanan mengandung dua unsur pokok, yakni bahaya dan agen untuk melindungi. Konsep resistensi terdiri dari tiga agen, yakni bahaya, kekuatan yang memaksa untuk melindungi ego (irasional), dan kekuatan yang memaksa untuk mengambil risiko, ego pra-adaptif. Kesamaan lain antara pertahanan dan resistensi ialah memiliki hierarki. Konsep pertahanan mengacu pada bermacam-macam aktivitas ego tak sadar, tetapi kita dapat membedakan antara mekanisme-mekanisme pertahanan dalam, tak sadar, otomatis, dan mekanisme-mekanisme pertahanan yang lebih dekat dengan ego sadar. Terdapat juga pemahaman mengenai resistensi. Resistensi meliputi banyak proses, mengenai apakah ia menggunakan proses primer atau proses sekunder dalam menjalankan fungsinya atau apakah ia berusaha mengatur pelepasan insting atau netral.
2.      Resistensi dan Regresi
Regresi adalah konsep deskriptif yang berarti kembali pada suatu bentuk aktivitas mental lebih awal dan lebih primitif (Freud, 1916). Orang-orang cenderung kembali ke tempat-tempat berhenti yang telah  menjadi tempat-tempat fiksasi pada masa lebih awal. Fiksasi dan regresi merupakan rangkaian yang saling melengkapi, meskipun demikian kita harus diperhatikan bahwa fiksasi adalah suatu konsep perkembangan sedangkan regresi merupakan suatu defensif. Fiksasi-fiksasi disebabkan oleh disposisi yang dibawa sejak lahir, faktor-faktor konstitusional, dan pengalaman-pengalaman yang membentuk suatu rangkaian saling melengkapi. Fiksasi bisa timbul karena (1) adanya harapan yang tidak bisa hilang bahwa orang pada akhirnya memperoleh kepuasan yang dirindukan, dan (2) frustrasi menyebabkan dorongan-dorongan tidak bisa berkembang karena direpresikan. 
Regresi dimotivasikan oleh pelarian dari rasa sakit dan bahaya. Regresi bisa terjadi berkenaan dengan hubungan-hubungan objek dan organisasi seksual (Freud, 1916). Regresi mungkin juga dipahami berkenaan dengan topografi, seperti berpindah dari proses sekunder ke proses primer. Gill (1963) berpendapat bahwa regresi juga menyangkut regresi structural, yakni suatu regresi dalm fungsi perceptual ego yang diungkapkan dengan mengubah pikiran-pikiran menjadi gambaran-gambaran visual. Winnicott (1955) mengemukakan bahwa aspek regresi yang sangat penting adalah regresi fungsi-fungsi ego dan hubungan-hubungan objek, terutama regresi kearah narsisisme primer.
Regresi menempati suatu posisi khusus diantara pertahanan-pertahanan, dan rupanya ada sedikit keraguan apakah regresi itu benar-benar tergolong dalam pertahanan-pertahanan (A. Freud, 1936). Akan tetapi, yang tidak dapat diragukan adalah ego benar-benar menggunakan regresi dalam bermacam-macam bentuk untuk tujuan pertahanan dan resistensi. Peran dari ego agak berbeda dalam hal regresi. Pada umumya, kelihatan bahwa ego lebih pasif dibandingkan dengan perannya dalam operasi-operasi defensif yang lain. Sangat sering terjadi regresi digerakkan oleh frustrasi instingtual pada tingkat tertentu, yang memaksa dorongan-dorongan mencari kalan keluar kea rah mundur (Fenichel, 1945). Sekalipun demikian, dalam kondisi-kondisi tertentu ego memiliki kemampuan untuk mengatur regresi, seperti dilakukannya pada waktu tidur, kejenakaan, dan dalam beberapa aktivitas kreatif (Kris, 1950).
Penyebab langsung dari dari resistensi adalah selalu menghindari suatu afek yang menyakitkan, seperti kecemasan, rasa bersalah, atau malu. Di balik motif ini akan ditemukan suatu impuls instingtual yang telah memicu afek yang menyakitkan itu. Pada akhirnya orang akan menemukan bahwa penyebabnya adalah ketakutan terhadap suatu keadaan traumatik yang coba dihindari oleh resistensi (A. Freud, 1936).
A.    Ciri Analisis Resistensi

Ciri terapi psikoanalitik adalah menganalisis resistensi dengan teliti dan sistematis, sedangkan tugas psikoanalisis tidak lain adalah mengungkapkan bagaimana pasien menentang, apa yang ditentang, dan mengapa ia menentang.

B.     Klasifikasi Analisis Resistensi
Ada banyak cara mengklasifikasikan resistensi-resistensi. Cara praktis yang sangat penting ialah membedakan resistensi ego-syntonic dan ego-alien. Apabila seorang pasien merasa bahwa suatu resistensi asing baginya, maka ia siap mengerjakannya secara analitik. Bila resistensi itu adalah ego-syntonic, ia mungkin menyangkal adanya, meremehkan maknanya, atau merasionalisasikannya. Salah satu langkah awal yang sangat penting dalam menganalisis suatu resistensi adalah memasukkannya ke dalam resistensi ego-alien pasien. Segera setelah ini dicapai, pasien akan membentuk suatu aliansi kerja dengan analis. Ia akan mengidentifikasikan dirinya untuk sementara dan secara parsial dengan analis karena ia rela mengerjakan resistensi-resistensi itu secara analitik.
Bentuk-bentuk psikoterapi lain berusaha menyingkiri atau mengatasi resistensi-resistensi dengan sugesti, menggunakan obat, atau memanfaatkan hubungan transferensi. Dalam terapi-terapi, yang disebut covering up atau supportive therapies, terapis berusaha memperkuat resistensi-resistensi. Ini mungkin perlu bagi pasien-pasien yang mengalami keadaan psikotik.

C.    Macam-Macam Resistensi
 Freud mengikhtisarkan lima macam resistensi, yaitu:
1.      Resistensi represi
2.      Resistensi transferensi
3.      Resistensi untuk melepaskan keuntungan yang didapat dari keadaan sakitnya
4.      Resistensi id, yang mungkin menolak perubahan pada cara pemuasannya dan merasa perlu untuk menelaah medium pemuasan baru
5.      Resistensi yang berasal dari superego, rasa bersalah atau kebutuhan akan hukuman yang tidak disadari yang menolak semua kesuksesan melalui analisis. Klien merasa dirinya harus tetap sakit karena mereka tidak pantas untuk membaik. Resistensi ini merupakan jenis resistensi yang paling kuat dan paling ditakutkan oleh analisis.



D.    Proses Interpretasi Resistensi
Proses interpretasi resistensi dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu:
1.      Terapis meminta klien melakukan asosiasi bebas dan analisis mimpi yang dapat menunjukkan kesediaan klien untuk menghubungkan pikiran, perasaan, dan pengalaman klien.
2.      Selanjutnya analisis menanyakan bila terjadi hal yang berbeda dengan apa yang di utarakan, misal klien bercerita dengan penuh semangat namun tiba-tiba sedih.
Sedangkan penampilan klinis resistensi, yaitu:
1.      Pasien berdiam diri
2.      Pasien tidak ingin bicara
3.      Afek-afek yang menunjukkan resistensi
4.      Sikap badan pasien
5.      Fiksasi pada waktu
6.      Masalah sepele atau peristiwa-peristiwa eksternal
7.      Menghindari pokok-pokok pembicaraan
8.      Rigiditas
9.      Bahasa penghindaran
10.  Datang terlambat, tidak datang ke jam analitik, lupa membayar
11.  Mimpi-mimpi tidak ada
12.  Pasien bosan
13.  Pasien memiliki suatu rahasia
14.  Memerankan (acting out)
15.  Jam analitik yang sering menggembirakan
16.  Pasien tidak berubah
17.  Resistensi diam (silent resistances)
 I.      ASSERTIVE TRAINING
A.    Definisi Perilaku Asertif
Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau assertion, yang artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif. Frensterhim dan Baer, mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkah laku atau perilaku asertif orang yang berpendapat dari orientasi dari dalam, memiliki kepercayan diri yang baik, dapat mengungkapkan pendapat dan ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa takut dan berkomunikasi dengan orang lain secara lancar. Sebaliknya orang yang kurang asertif adalah mereka yang memiliki ciri terlalu mudah mengalah/ lemah, mudah tersinggung, cemas, kurang yakin pada diri sendiri, sukar mengadakan komunikasi dengan orang lain, dan tidak bebas mengemukakan masalah atau hal yang telah dikemukakan.
Nelson dan Jones (2006:184) menjelaskan bahwa perilaku asertif adalah perilaku yang merefleksikan rasa percaya diri dan menghormati diri sendiri dan orang lain. Hal ini sejalan dengan pengertian perilaku asertif yang dikemukakan oleh Alberti dan Emmons, yaitu: Perilaku asertif meningkatkan kesetaraan dalam hubungan sesama manusia, yang memungkinkan kita untuk menunjukkan minat terbaik kita, berdiri sendiri tanpa hatrus merasa cemas, mengeekspresikan perasaan kita dengan jujur dan nyaman, melatih kepribadian kita yang sesungguhnya tanpa menolak kebenaran dari orang lain.

B.     Definisi Assertive Training
 Assertive training merupakan salah satu teknik dalam terapi behavioral. Menurut Willis (2004:69) terapi behavioral berasal dari dua arah konsep yakni Pavlovian dari Ivan Pavlov dan Skinerian dari B.F Skinner. Mula-mula terapi ini dikemabangkan oleh Wolpe untuk menanggulangi neurosis. Neurosis dapat dijelaskan dengan mempelajari perilaku yang tidak adaptif melalui proses belajar. Dengan kata lain perilaku yang menyimpang bersumber dari hasil belajar di lingkungan.
Willis (2004:72) menjelaskan bahwa assertive training merupakan teknik dalam konseling behavioral yang menitikberatkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya. Assertive training adalah suatu teknik untuk membantu klien dalam hal-hal berikut:
1.      Tidak dapat menyatakan kemarahan atau kejengkelannya.
2.      Mereka yang sopan berlebihan dan membiarkan orang lain mengambil keuntungan padanya.
3.      Mereka yang mengalami kesulitan berkata “tidak”.
4.      Mereka yang sukar menyatakan cinta dan respon positif lainnya
5.      Mereka yang merasakan tidak punya hak untuk menyatakan pendapat dan pikirannya.
Corey (2009:215) menjelaskan bahwa: assertive training (latihan asertif) merupakan penerapan latihan tingkah laku dengan sasaran membantu individu-individu dalam mengembangkan cara-cara berhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi interpersonal. Fokusnya adalah mempraktekkan melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperolah sehingga individu-individu diharapkan mampu mengatasi ketakmemadaiannya dan belajar mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran mereka secara lebih terbuka disertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk menunjukkan reaksi-reaksi yang terbuka itu.
Selain itu Gunarsih (2007:217) dalam bukunya Konseling dan Psikoterapi menjelaskan pengertian latihan asertif menurut Alberti yaitu prosedur latihan yang diberikan kepada klien untuk melatih perilaku penyesuaian sosial melalui ekspresi diri dari perasaan, sikap, harapan, pendapat, dan haknya.
Berdasarkan beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa assertive training atau latihan asertif adalah prosedur latihan yang diberikan untuk membantu peningkatan kemampuan mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan dan dipikirkan pada orang lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain.

C.    Tujuan Assertive Training
Teknik assertive training dalam pelaksanaannya tentu memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh konselor dan klien. Day (2008:338) menjelaskan bahwa tujuan assertive training membantu klien belajar kemandirian sosial yang diperlukan untuk mengekspresikan diri mereka dengan tepat.
Sedangkan menurut Fauzan (2010) terdapat beberapa tujuan assertive training yaitu
1.      Mengajarkan individu untuk menyatakan diri mereka dalam suatu cara sehingga memantulkan kepekaan kepada perasaan dan hak-hak orang lain.
2.      Meningkatkan keterampilan behavioralnya sehingga mereka bisa menentukan pilihan apakah pada situasi tertentu perlu berperilaku seperti apa yang diinginkan atau tidak.
3.      Mengajarkan pada individu untuk mengungkapkan diri dengan cara sedemikian rupa sehingga terefleksi kepekaanya terhadap perasaan dan hak orang lain.
4.      Meningkatkan kemampuan individu untuk menyatakan dan mengekspresikan dirinya dengan enak dalam berbagai situasi sosial.
5.      Menghindari kesalahpahaman dari pihak lawan komunikasi.

D.    Tahapan Pelaksanaan Assertive Training
 Prosedur dasar dalam pelatihan asertif menyerupai beberapa pendekatan perilaku dalam konseling. Prosedur-prosedur ini mengutamakan tujuan-tujuan spesifik dan kehati-hatian, sebagaimana diuraikan Osipow dalam A Survey of Counseling Methode (1984):
1.      Menentukan kesulitan konseli dalam bersikap asertif dengan penggalian data terhadap klien, konselor mengerti dimana ketidakasertifan pada konselinya. Contoh: konseli tidak bisa menolak ajakan temannya untuk bermain voli setiap minggu pagi padahal ia lebih menyukai berenang, hal itu karena konseli sungkan, khawatir temannya marah atau sakit hati sehingga ia selalu menuruti ajakan temannya.
2.      Mengidentifikasi perilaku yang diinginkan oleh klien dan harapan-harapannya. Diungkapkan perilaku/sikap yang diinginkan konseli sehubungan dengan permasalahan yang dihadapi dan harapan-harapan yang diinginkannya.
3.      Menentukan perilaku akhir yang diperlukan dan yang tidak diperlukan. Dengan kata lain, konselor dapat menentukan perilaku yang harus dimiliki konseli untuk menyelesaikan masalahnya dan juga mengenali perilaku-perilaku yang tidak diperlukan yang menjadi pendukung ketidakasertifannya. Contoh: Dengan mempelajari secara mendetail kasus yang dialami konselinya, konselor menarik kesimpulan awal bahwa, konseli tidak perlu menuruti terus ajakan temannya yang sebenarnya tidak ia sukai. Perilaku yang ia perlukan adalah menolak dengan jujur, tegas dan sopan ajakan temannya tersebut.
4.      Membantu klien untuk membedakan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan dalam rangka menyelesaikan masalahnya. Setelah konselor menentukan perilaku yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan, kemudian ia menjelaskannya pada konseli tentang apa yang seharusnya dilakukan dan dihindari dalam rangka menyelesaikan permasalahannya dan memperkuat penjelasannya.
5.   Mengungkapkan ide-ide yang tidak rasional, sikap-sikap dan kesalahpahaman yang ada difikiran konseli. Konselor dapat mengungkap ide-ide konseli yang tidak rasional yang menjadi penyebab masalahnya, sikap-sikap dan kesalahpahaman yang mendukung timbulnya masalah tersebut.
6. Menentukan respon-respon asertif/sikap yang diperlukan untuk menyelesaikan permasalahannya (melalui contoh-contoh).
7.      Mengadakan pelatihan perilaku asertif dan mengulang-ulangnya. Konselor memandu konseli untuk mempraktikkan perilaku asertif yang diperlukan, menurut contoh yang diberikan konselor sebelumnya.
8.      Melanjutkan latihan perilaku asertif
9.   Memberikan tugas kepada konseli secara bertahap untuk melancarkan perilaku asertif yang dimaksud. Untuk kelancaran dan kesuksesan latihan, konselor memberikan tugas kepada konseli untuk berlatih sendiri di rumah ataupun di tempat-tempat lainnya.
10.  Memberikan penguatan terhadap tingkah laku yang diinginkan. Penguatan dibutuhkan untuk meyakinkan bahwa konseli harus dapat bersikap tegas terhadap permintaan orang lain padanya, sehingga orang lain tidak mengambil mafaat dari kita secara bebas. Selain itu yang lebih pokok adalah konseli dapat menerapkan apa yang telah dilatihnya dalam situasi yang nyata.A.    Kelebihan dan Kekurangan Assertive Training
            Kelebihan pelatihan asertif ini akan tampak pada:
1.      Pelaksanaannya yang cukup sederhana,
2.      Penerapannya dikombinasikan dengan beberapa pelatihan seperti relaksasi, ketika individu lelah dan jenuh dalam berlatiih, kita dapat melakukan relaksasi supaya menyegarkan individu itu kembali. Pelatihannya juga bisa menerapkan teknik modeling, misalnya konselor mencontohkan sikap asertif langsung dihadapan konseli. Selain itu juga dapat dilaksanakan melalui kursi kosong, misalnya setelah konseli mengangankan tentang apa yang hendak diutarakan, ia langsung mengutarakannya di depan kursi yang seolah-olah dikursi itu ada orang yang dimaksud oleh konseli.
3.      Pelatihan ini dapat mengubah perilaku individu secara langsung melalui perasaan dan sikapnya.
4.      Disamping dapat dilaksanakan secara perorangan juga dapat dilaksanakan dalam kelompok. Melalui latihan-latihan tersebut individu diharapkan mampu menghilangkan kecemasan-kecemasan yang ada pada dirinya, mampu berfikir relistis terhadap konsekuensi atas keputusan yang diambilnya serta yang paling penting adalah menerapkannya dalam kehidupan ataupun situasi yang nyata.
Kelemahan, pelatihan asertif ini akan tampak pada,
1.      Meskipun sederhana namun membutuhkan waktu yang tidak sedikit, ini juga tergantung dari kemampuan individu itu sendiri
2.      Bagi konselor yang kurang dapat mengkombinasikannya dengan teknik lainnya, pelatihan asertif ini kurang dapat berjalan dengan baik atau bahkan akan membuat jenuh dan bosan konseli/peserta, atau juga membutuhkan waktu yang cukup lama.

III.      RATIONAL EMOTIVE THERAPY
A.    Definisi Rational Emotive Therapy
Rational Emotive Therapy dideskripsikan sebagai corak konseling yag menekankan kebersamaan dan interaksi antar berpikir dengan akal sehat (Rational thinking), berperasaan (emoting), dan berperilaku (acting), serta menekankan bahwa suatu perubahan yang mendalam dalam cara berpikir sehingga menghasilkan perubahan yang berarti dari cara berperasaan dan berperilaku. Jadi, orang yang mengalami gangguan dalam hal perasaannya harus dibantu untuk meninjau kembali bagaimana caranya berpikir dan memanfaatkan akal sehat. Penemu corak konseling Rational-Emotive Therapy adalah Abert Ellise pada tahun 1955, yang telah menerbitkan banyak karangan dan buku. Antara lain buku yang berjudul Reason and Emotion in Psychotherapy (1992), A New Guide To Rational Living (1975), serta karangan yang berjudul The Rational-Emotive Approach To Counseling dalam buku Burks Theories Of Counseling (1979).
Menurut pengakuan Albert, corak konseling rational-emotive therapy (RET) berasal dari aliran pendekatan kognitif behavioristik. Awalnya terapi ini bernama terapi rasional, namun karena banyak memperoleh anggapan keliru bahwa mengeksplorasi emosi-emosi klien tidak begitu penting bagi Ellis. Sehingga pada tahun 1961 dia mengubah namanya menjadi terapi rasional emotif. Ellis menggabungkan terapi humanistik, filosofis, dan behavioral menjadi terapi rasional emotif (TRE). TRE banyak kesamaan dengan dengan terapi yang berorientasi pada kognisi, perilaku dan perbuatan dimana TRE menekankan pada berpikir, memikirkan, mengambil keputusan, menganalisis dan berbuat. TRE didasarkan pada asumsi bahwa kognisi, emosi, dan perilaku berinteraksi secara signifikan dan memiliki hubungan sebab akibat timbal balik.
A.    Tujuan dan Sasaran Rational Emotive Therapy
Rational Emotive Therapy mempunyai tujuan membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan untuk belajar gagasan logis sebagai penggantinya. Menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi diri mereka telah dan masih merupakan sumber utama dari gangguan emosional yang dialami oleh mereka.
Sasaran dari terapi ini adalah untuk menjadikan klien menginternalisasi suatu filsafat hidup yang raisonal sebagaimana dia menginternalisasi keyakinan-keyakinan dogmatis yang irasional dan takhayul yang berasal dari orang tua maupun kebudayaan. 

B.     Langkah-Langkah Rational Emotive Therapy
Ada empat langkah dalam rational emotive therapy, yaitu:
1.      Langkah Pertama
Menunjukkan kepada klien bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinan-keyakinan irrasionalnya, menunjukkan bagaimana klien mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikapnya, dan menunjukkan secara kognitif bahwa klien telah memasukkan banyak keyakinan irrasional, klien harus belajar memisahkan keyakinan-keyakinan yang rasional dari keyakinan irrasionalnya dan mencapai kesadaran. Terapis akan mendorong, membujuk, dan suatu saat memerintah klien agar terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang akan bertindak sebagai agen propaganda.
2.      Langkah Kedua
Membawa klien ke seberang tahap kesadaran, dengan menunjukkan bahwa dia sekarang mempertahankan gangguan-gangguan emosional untuk tetap aktif dengan terus menerus berfikir tidak logis, kemudian mengakuinya. Untuk melangkah ke pengakuan klien atas pikiran pikiran irrasionalnya, dibutuhkan langkah selanjutnya.
3.      Langkah Ketiga
Berusaha agar klien memperbaiki pikiran-pikirannya dan meninggalkan gagasan-gagasan irrasionalnya, terapis membantu klien untuk memahami hubungan antara gagasan-gagasan yang mengalahkan diri dan filsafat yang tidak realistis.
4.      Langkah Keempat
Menantang klien untuk mengembangkan filsafat-filsafat hidup yang rasional sehingga dia bisa menghindari kemungkinan menjadi korban keyakinan irasional.
Sedangkan Ellis (1973) memberikan suatu gambaran tentang apa yang dilakukan oleh terapis yang melakukan Rational Emotive Therapy, yaitu:
1.      Mengajak klien untuk berfikir tentang beberapa gagasan dasar yang irasional yang telah memotivasi banyak gangguan tingkah laku;
2.      Menantang klien untuk menguji gagasan-gagasanyya;
3.      Menunjukkan kepada klien ketidaklogisan pemikirannya;
4.      Menggunakan suatu analisi logika untuk meminimalkan keyakinan-keyakinan irasional klien;
5.      Menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan itu tidak ada gunanya dan bagaimana keyakinan akan mengakibatkan gangguan emosional dan tingkah laku di masa depan.
6.      Menggunakan absurditas dan humor untuk menghadapi rasionalitas pikiran klien
7.      Menerangkan bagaimana gagasan-gagasan irasional bisa diganti dengan gagasan-gagasan yang rasional yang memiliki landasan empiris; dan
8.      Mengajari klien bagaimana menerapkan pendekatan ilmiah pad acara berfikir sehingga klien bisa mengamati dan meminimalkan gagasan-gagasan yang irasional dan kesimpulan yang tidak logis.




C.    Karakteristik Proses Rational Emotive Therapy
Ada empat karakteristik dalam proses konseling rasional-emotif, yaitu:
1.      Aktif-direktif
Dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
2.      Kognitif-eksperiensial
Hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
3.      Emotif-ekspreriensial
Hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
4.      Behavioristik
Hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien.

D.    Teknik Rational Emotive Therapy
Pendekatan konseling rasional emotif menggunakan berbagai teknik yang bersifat kogntif, afektif, dan behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Beberapa teknik dimaksud antara lain adalah sebagai berikut.
1.      Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
a.       Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
b.      Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
c.       Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.
2.      Teknik-Teknik Behavioristik
a.      Reinforcement
Teknik untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment). Teknik ini dimaksudkan untuk membongkar sistem nilai dan keyakinan yang irrasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang positif. Dengan memberikan reward ataupun punishment, maka klien akan menginternalisasikan sistem nilai yang diharapkan kepadanya.
b.      Social modeling
Teknik untuk membentuk tingkah laku-tingkah laku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan dengan cara imitasi (meniru), mengobservasi, dan menyesuaikan dirinya dan menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan oleh konselor.
3.      Teknik-Teknik Kognitif
a.       Homework assignments,
Teknik yang dilaksanakan dalam bentuk tugas-tugas rumah untuk melatih, membiasakan diri, dan menginternalisasikan sistem nilai tertentu yang menuntut pola tingkah laku yang diharapkan.
Dengan tugas rumah yang diberikan, klien diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan ide-ide dan perasaan-perasaan yang tidak rasional dan tidak logis, mempelajari bahan-bahan tertentu yang ditugaskan untuk mengubah aspek-aspek kognisinya yang keliru, mengadakan latihan-latihan tertentu berdasarkan tugas yang diberikan. Pelaksanaan homework assignment yang diberikan konselor dilaporkan oleh klien dalam suatu pertemuan tatap muka dengan konselor.
Teknik ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan sikap-sikap tanggung jawab, kepercayaan pada diri sendiri serta kemampuan untuk pengarahan diri, pengelolaan diri klien dan mengurangi ketergantungannya kepada konselor.
b.      Latihan assertive
Teknik untuk melatih keberanian klien dalam mengekspresikan tingkah laku-tingkah laku tertentu yang diharapkan melalui bermain peran, latihan, atau meniru model-model sosial. Maksud utama teknik latihan asertif adalah:
1)      Mendorong kemampuan klien mengekspresikan berbagai hal yang berhubungan dengan emosinya.
2)      Membangkitkan kemampuan klien dalam mengungkapkan hak asasinya sendiri tanpa menolak atau memusuhi hak asasi orang lain.
3)      Mendorong klien untuk meningkatkan kepercayaan dan kemampuan diri.
4)      Meningkatkan kemampuan untuk memilih tingkah laku-tingkah laku asertif yang cocok untuk diri sendiri.
A.    Efektivitas Rational Emotive Therapy
1.      Kelebihan Rational Emotive Therapy
a.       Pendekatan ini cepat sampai kepada masalah yang dihadapi oleh klien. Dengan demikian, perawatan juga dapat dilakukan dengan cepat.
b.      Berfikir logis yang diajarkan kepada klien dapat digunakan dalam menghadapi masalah yang lain.
c.       Klien merasa dirinya mempunyai keupayaan intelektual dan kemajuan dari cara berfikir.
d.      Para konseli bisa memperoleh sejumlah besar pemahaman dan akan menjadi sangat sadar akan sifat masalahnya.
e.       Menekankan pada peletakan pemahaman yang baru di peroleh ke dalam tindakan yang memungkinan pada konseli mempraktekkan tingkah laku baru dan membantu mereka dalam pengkondisian ulang
2.      Kelemahan Rational Emotive Therapy
a.       Ada klien yang boleh ditolong melalui analisa logis dan falsafah, tetapi ada pula yang tidak begitu cerdas otaknya untuk dibantu dengan cara yang sedemikian yang berasaskan kepada logika.
b.      Ada sebagian klien yang begitu terpisah dari realitas sehingga usaha untuk membawanya ke alam nyata sukar sekali dicapai.
c.       Ada juga sebagian klien yang memang suka mengalami gangguan emosi dan bergantung kepadanya dalam hidupnya, dan tidak mau berbuat apa-apa perubahan lagi dalam hidup mereka
d.      Terapis yang tidak terlatih memandang terapi sebagai “pencecaran” konseli dengan persuasi, indoktrinasi logika dan nasehat. 

DAFTAR PUSTAKA
Corey Gerald. (1988). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung: PT Eresco.
          Dwi Riyanti, B. P. & Prabowo, H. (1998). Psikologi umum 2. Jakarta: Universitas Gunadarma.
       Nelson-Jones, Richard. (2006). Teori dan praktik konseling dan terapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
          Semiun, Y. (2006). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik reud. Yogyakarta: Kanisius.






Saturday, April 15, 2017

Psikoterapi

Gangguan Psikologis dan Terapinya

A.    Pengertian Fetisisme
Menurut Sunaryo (2002) fetisisme adalah hubungan seksual mencari gairah dan kepuasan seksual secara berulang dengan memakai benda mati (fetish) sebagai pengganti objek seksual, misal sepatu pakaian dalam kaos kaki dan rambut. Fetisisme merupakan kondisi patologis karena kegairahan atau pemuasan sekseal dilakukan dengan memegang,  meraba pada bagian tubuh yang non seksual.
Menurut Achir Yani (2008) fetisisme sesuatu hubungan yang menetap sedikitnya selama 6 bulan, antara rangsangan dan keinginan seksual, tindakan, fantasi atau rangsangan dengan menggunakan objek benda mati misal pakaian dalam.
Menurut Herri (2011) fetisisme adalah dorongan, fantasi, dalam perilaku seks yang melibatkan benda mati dan hal-hal yang tidak lazim, seperti pakaian dalam wanita, sebagai akibat distres dalam fungsi kehidupan seks yang berlangsung berulang-ulang dan penderita menyukai pada bagian bagian tertentu.
B.     Terapi Pada Gangguan Fetisisme  
1.      Penanganan Psikologis
-          Cara Covert Desensitization
Yaitu dengan cara mereview mental dan perilaku secara berulang-ulang dengan konsekuensi aversif dalam membangun asosiasi negatif dengan penilaian perilaku menyimpang tersebut. Disini dilakukan intervensi kognitif-behavioral untuk mengurangi perilaku yang tak dikehendaki dengan cara klien membayangkan konsekuensi yang sangat aversif dari perilakunya dan membangun asosiasi negatif jika ingin memperoleh reward atau ketika ia mampu mengalahkan asosiasi positifnya.
-          Cara Orgasmic Reconditioning
Yaitu dengan cara memasangkan stimulus-stimulus yang pantas dan menciptakan pola rangsangan seksual yang positif. Prosedurnya menekankan konsep belajar, yakni membantu klien untuk memperkuat pola-pola rangsangan seksual yang semestinya dengan cara memasangkan stimuli-stimuli yang tepat dan sesuai dengan sensasi seksual yang menyenangkan.
-          Relapse Preventation
Yaitu suatu metode yang digunakan sebagai adiksi dan pencegahan pada gangguan ini. Metode ini melakukan preparasi terapi (memperpanjang proses terapeuntik) guna mengatasi gangguan seks dalam berbagai situasi sulit di masa yang akan datang, penderita di ajari mengenal tanda-tanda awal godaan gangguan seksual dengan melatih berbagai pengendalian diri sebelum hasrat seksual menyimpangnya menjadi kuat. Klien diajari untuk bisa mengatasi, mengendalikan, dan menyelesaikan masalah kelainan seks. Tingkat keberhasilan prosedur relapse prevention relatif tinggi. Jumlah orang yang berhasil ditangani dengan metode ini sangat bervariasi.

            Refensi :
Fauziah, F & Julianty W. (2007). Psikologi Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).
Pieter, Herri Zan & Lubis, Namora Lumongga. (2010). Pengantar Psikologi dalam Keperawatan. Jakarta : Kencana.
Yustinus Semiun. (2006). Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius.




Thursday, March 16, 2017

Tugas SoftSkill (Psikoterapi)

  
  Psikoterapi
     A.   Defini Psikoterapi

Menurut Branc (1981) psikoterapi ialah proses dimana orang berinteraksi atau berusaha untuk mencapai pemahaman antara satu dengan yang lain, untuk mencapai matlumat khusus yang menuju ke perkembangan diri.
Menurut Dwi Riyanti dan Hendro Prabowo (1998) psikoterapi adalah perawatan dan penyembuhan terhadap gangguan dan penyakit jiwa dengan cara yang lebih psikologis daripada fisiologis maupun biologis.
Menurut Hamdani (2001) psikoterapi berasal berasal dari kata pyche dan therapy. yang bermaksud jiwa dan hati, akal dan diri atau bagian dari diri manusia dari aspek yang lebih bersifat rohaniah.
Menurut M. Sakura (2016)  psikoterapi adalah pengobatan alam pikiran atau lebih tepatnya pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis.
     B.   Aliran dalam Psikologi dan Terapi yang digunakan
1.      Psikoanalisa
Diperkenalkan oleh Sigmund Freud pada tahun 1909 teorinya   tentang alam ketidaksadaran, menurut Freud berisi dorongan yang timbul pada masa kanak-kanak yang terpaksa ditekan sehingga tidak muncul dalam kesadaran. Dalam perkembangan teorinya Freud mengemukakan pola teori tentang Id ( dorongan naruli ), Ego ( Aku ) dan Superego ( hati nurani ). Pandangan lain dari Freud adalah tentang mekanisme perhahanan.
Ø  Terapi Psikoanalisa
Terapi psikoanalisa bersifat intensif dan panjang lebar. Terapis dan klien umumnya bertemu selama 50 menit beberapa kali dalam seminggu sampai beberapa tahun. Teknik dalam psikoanalisa disesuaikan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh pemahaman intelektual atas tingkah laku klien dan untuk memahami makna dari beberapa gejala. Ada lima teknik dasar dalam psikoanalisa yaitu :

a.       Asosiasi Bebas
Merupakan metode pengungkapan pengalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik dimasa lalu. Dikenal dengan sebutan katarsis, katarsis secara sementara dapat mengurangi pengalaman yang menyakitkan si klien. Klien diminta untuk membersihkan pikirannya dari pikiran-pikiran dan renungan-renungan sehari-hari dan mengatakan apa yang muncul dan melintas dipikirannya. Klien diminta untuk mengemukakan segala sesuatu melalui perasaan atau pikiran dengan melaporkan secepatnya tanpa sensor. Cara asosiasi bebas dengan mempersilahkan klien berbaring dan terapis duduk dibelakangnya, agar tidak mengalihkan perhatian klien.
b.      Interpretasi
Adalah prosedur dasar yang digunakan dalam analisis asosiasi bebas, analisis resistensi dan transparansi. Prosedurnya terdiri atas penetapan analisis, penjelasan, dan bahkan mengajar klien tentang makna perilaku yang di manifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi dari interpretasi adalah membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan hal-hal yang tersembunyi.
c.       Analisis Mimpi
Merupakan prosedur yang paling penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh pemahaman kepada masalah-masalah yang yang belum terpecahkan. Selama tidur pertahanan menjadi lebih lemah dan perasaan-perasaan yang ditekan kemudian muncul ke permukaan. Freud melihat bahwa didalam mimpi semua keinginan, kebutuhan, dan kekuatan yang tidak disadari diekspresikan. Beberapa motivasi yang tidak diterima oleh orang lain, dinyatakan dalam simbolik daripada secara terbuka dan langsung.
d.      Resistensi
Adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien menampilkan hal-hal yang tidak disadari. Freud memandang bahwa resistensi dianggap sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang ditekan tersebut. Resistensi dapat dilihat sesebagai sarana untuk bertahan klien terhadap kecemasan. 
e.       Transferensi
Transferensi dalam keadaan normal adalah pemindahan emosi dari satu objek ke objek lainnya, atau secara lebih khusus pemindahan emosi dari orang tua kepada terapis. Dalam keadaan neurosis, merupakan pemuasan libido klien yang diperoleh melalui mekanisme pengganti atau lewat kasih sayang yang melekat dan kasih sayang pengganti.

2.      Behaviorisme
Tokoh dalam aliran behaviorisme antara lain William James, Mac. Dougall, Thorndike dan Watson. Aliran ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya, melainkan mengamati perbuatan dan tibngkah laku yang berdasarkan pada kenyataan, pengalaman batin di kesampingkan. Watson dalam teorinya lebih mementingkan tingkah laku terbuka yang langsung dapat diamati dan diukur daripada tingkah laku tertutup yang hanya dapat diketahui secara tidak langsung, aliran ini disebut juga sebagai psikologi S-R.
Ø  Terapi Behaviorisme
Terapi behavioral berasal dari dua konsep yaitu Pavlovian dan Skinnerian, awal mulanya  terapi dikembangkan oleh Wolpe (1958) untuk menanggulangi treatment neurosis. Dasar teori behavioral bahwa perilaku dapat dipahami sebagai hasil kombinasi (1) belajar waktu lalu dalam hubungannya dengan keadaan serupa, (2) keadaan motivasional sekarang efeknya terhadap kepekaan terhadap lingkungan, (3) perbedaan biologik baik secara genetik atau gangguan fisiologik.
a.       Desensitiasi Sistematik
Teknik ini dikembangkan oleh Wolpe yang mengatakanbahwa perilaku neurosik adalah ekspresi dalam kecemasan dan respon terhadap kecemasan dapat dieliminasi dengan menemukan respon yang antagonistik.
Teknik ini bermaksud untuk mengajarkan klien memberikan respon yang tidak konsisten dengan kecemasan yang dialami klien, klien diajarkan untuk santai dan menghubungkan keadaan santai itu dengan membayangkan pengalaman yang mencemaskan, menggusar dan mengecewakan. Situasi tersebut disusun secara sistematis.
b.      Assertive Training
Merupakan teknik dalam konseling yang menitikberatkan pada kasus yang mengalami kesulitan dalam perasaan yang tidak sesuai dalam menyatakannya.
Assertive training membantu klien dalam hal berikut:  
1.      Tidak dapat menyatakan kemarahannya
2.      Mereka yang sopan berlebihan dan membiarkan orang lain mengambil keuntungan dari dirinya
3.      Mereka yang mengalami kesulitan dalam berkata tidak
4.      Mereka yang sulit menyatakan cinta dan respon positif lainnya
5.      Mereka yang merasakan tidak punya hak untuk menyatakan pendapat dan pikirannya.
Pada assertive training konselor berusaha memberikan keberanian pada klien dalam mengatasi kesulitan terhadap orang lain. Pelaksanaan teknik ini ialah dengan role playing.
c.       Aversion Terapi
Teknik ini bertujuan untuk menghukum perilaku yang negatif dan memperkuat perilaku positif, hukumannya biasanya dengan kejutan listrik atau memberikan ramuan yang membuat orang muntah.
d.       Homework
Adalah latihan rumah bagi klien yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi tertentu. Caranya memberinya tugas untuk seminggu.
3.      Psikologi Humanistik
Aliran yang mencoba melihat keunggulan-keunggulan potensial manusia dan upaya mengaktualisasikannya. Tokoh yang terkenal dalam aliran ini adalah Karl Roger dan Abraham Maslow. Landasan dasar psikologi humanistik ialah sebagai berikut :
-       Pada dasarnya citra manusia itu baik
-       Manusia memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan hidupnya
-       Manusia adalah makhluk yang beraktivitas dan tumbuh berkembang untuk tujuan mewujudkan sisi kemanusiaan
-       Dikaji lebih dalam tentang kemampuan personal individu, dilihat dari dirinya sendiri bukan dari pandangan orang lain
Teori Maslow yang terkenal adalah teori motivsasinya yang ada dalam buku “Motivation and Personality” dalam buku itu diuraikan manusia terdapat 5 macam kebutuhan yang hirarki.
Ø  Terapi Humanistik
a.        Person Centered Therapy
Terapi yang dikembangkan oleh Carl R. Rogers pada tahun 1942, ia memiliki pandangan dasar bahwa pada dasarnya manusia bersifat positif, optimis, penuh harapan, aktif, bertanggung jawab dan penuh harapan. Rogers mengasumsikan bahwa klien adalah ahli yang paling baik bagi dirinya sendiri dan merupakan orang yang mampu untuk memecahkan masalahnya sendiri. Terapis memiliki tugas mempermudah proses pemecahan masalah mereka sendiri, terapis tidak mengajukan pertanyaan yang menyelidik, membuat penafsiran atau melakukan tindakan. Terapis hanya menjadi fasilitator.
b.      Gestalt Terapi
Dikembangkan oleh Frederick Pearls merupakan bentuk terapi eksistesial. Menurut Pearls individu selalu aktif sebagai keseluruhan bukan hanya bagian-bagian saja. Tujuan terapi Gestalt untuk membantu klien menjadi individu  yang merdeka dan berdiri sendiri. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan (1) usaha membantu klien tentang apa yang dilakukannya, (2) membantu penyadaran tentang siapa dan hambatan dirinya, (3) membantu klien untuk menghilangkan hambatan dalam pengembangan penyadaran diri.
c.       Logo terapi  
Dikembangkan oleh Frankl pada tahun 1938 ketika ia menjadi tawanan Nazi bersama tawanan Yahudi lainnya. Ibu , bapak dan isterinya meninggal di kamp Nazi tersebut. Semua tawanan mengalami penderitaan yang amat berat, semasa dalam tawanan itu munjuk inspirasinya mengenain makna kehidupan. Logo terapi bertugas membantu klien menemukan makna hidup. Logo terapi memiliki tiga konsep dasar yaitu:
-          Kebebasan berkeinginan
-          Keinginan akan makna
-          Makna hidup
Peran terapis harus menunjukan kepada klien bahwa setiap manusia mempunya tujuan yang unik yang dapat tercapai dengan suatu cara tertentu terapi juga membuat klien menyadari secara penuh tanggung jawab dirinya dan memberinya kesempatan untuk memilih, untuk apa, untuk siapa ia harus bertanggung jawab.
            Contoh Kasus Terapi Psikoanalisa :
Isabela Wanita asal Dodge Center, Minnesota, Amerika yang masa kecilnya mengalami penyiksaan berat oleh ibu kandungnya sendiri, dalam sebuah lingkungan keluarga ortodoks. Sang ibu berbuat begitu karena menginginkan anaknya tumbuh kuat dan berdisiplin, setiap melakukan kesalahan Isabel disiksa oleh ibunya hingga ketika besar tumbuh menjadi pribadi yang tercerai-berai, bayangan masa lalunya membuat Isabel mengalami Multiply Personality Disorder di kehidupan dewasanya. 
Isabel adalah seorang wanita muda, pintar (baik dalam akademik maupun seni) namun sering mengalami ‘kehilangan waktu’. Dr. Wil hadir di dalam hidup Isabel sebagai seorang dokter sekaligus sahabat yang ingin membantu Isabel ‘mengembalikan’ hidupnya. Di awali  di suatu malam, ketika Isabel tiba-tiba tersadar telah berada di tengah badai salju di kota Philadhelpia, sementara kenyataannya Isabel tinggal di New York. Dia tidak ingat bagaimana dia bisa tiba disana, dia tidak mengerti alasan dia berada di sana. Yang dia ingat, tiga hari yang lalu dia baru keluar dari laboratorium kimia di kampusnya.
Di New York Isabel menyewa sebuah apartemen yang ditinggalinya bersama sahabatnya. Sahabatnya telah mengetahui Gangguan disosiasi yang dialami oleh Isabel. Namun, ternyata diam-diam  Isabel menyimpan perasaan suka sesama jenis terhadap Isabel.
Pada awal terapi, dr . Wil belum menemukan hal yang signifikan dari Isabel. Namun setelah waktu yang cukup lama muncul lah pribadi Isabel yang bernama Peggy Lou. Peggy Lou merupakan pribadi lain dari Isabel yang dapat mengungkapkan kemarahan yang tidak bisa ditunjukkan oleh Isabel. Disamping Peggy Lou, ada juga kembarannya yaitu Peggy Ann yang merupakan pribadi lain dari Isabel yang dapat menunjukkan keberanian yang tidak bisa ditunjukkan oleh Isabel. Setelah itu muncul pribadi-pribadi lain seperti Vicky yang merupakan sosok impian Isabel yang sempurna. Kemudian ada lagi pribadi lain yaitu Marcia yang pintar menulis, Vanessa yang pandai memainkan piano, Marry yang gemar bersajak dan bersifat keibuan, Helen yang ambisius, Clara yang menyukai musik dan pelajaran Bahasa Inggris, Anny yang mengidap penyakit psikologis neurasthania , Mike yang merupakan identifikasi Kakek Isabel yang agresif, Sid merupakan identifikasi Ayah Isabel yang bersifat hati-hati, Nancy yang tertarik dengan politik, Marjorie yang periang, Ruthie merupakan sosok bayi, dan terakhir The Bonde yang menyukai kuliah. Ke-15 pribadi Isabel ini mengenal baik Isabel, tetapi Isabel sama sekali tidak mengenal mereka. Isabel hanya merasa ada ”waktu yang hilang” dalam hidupnya yang disebut (fuga).
Ke-15 pribadi yang lain tersebut sering berdialog dengan dr. Wil dan menyatakan merasa kasihan dengan sosok Isabel yang pemurung, tidak bisa marah, ceria, bahkan menangis sekalipun. Pribadi-pribadi yang lain tersebut telah menggantikan hari-hari Isabel yang dianggap hilang. Contohnya saja ketika Peggy mengambil posisinya saat Isabel dikelas 3. Peggy telah mampu menghafal perkalian, mampu menyanyi, dan ceria. Namun semua orang disekitarnya kaget ketika mengetahui tiba-tiba Isabel yang pintar perkalian, ceria mendadak berubah menjadi Isabel yang pemurung, dan penakut.
Kepribadian majemuk yang dialami Isabel membuat dr. Wil heran. Ada 16 pribadi yang berlainan dalam satu jasad. Dr. Wil mencoba menganalisis apa yang menyebabkan Isabel menjadi pemurung, kurus, membenci tangan, membenci suara musik, takut untuk memegang barang-barang yang terbuat dari kaca, dan tak menyukai wanita yang berambut putih. Melalui pribadi-pribadi lain yang muncul itulah yang mengungkapkan semuanya kepada dr. Wil.
Melalui analisa dr. Wil ditemukan lah penyebab terpecahnya kepribadian Isabel. Kepribadiannya sudah terpecah saat Isabel berusia 2,5 tahun.

DAFTAR PUSTAKA
Goble, Frank G. (1987). Mazhab Ketiga Psikologi Humanistik Abraham Maslow.Yogyakarta: Kanisius
Riyanti, B.P, Hendro Prabowo.(1998). Psikologi Umum 2. Jakarta: Universitas Gunadarma
Taufiq, M. I. (2006 ). Panduan Lengkap dan Praktis Psikologi Islam. Jakarta: Gema Insani Press
Basuki, Heru. (2008). Psikologi Umum. Jakarta: Universitas Gunadarma
Corey, G. (2009). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama
Ahmadi, Abu. (2009). Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta